
Oleh: Dr. H. Toto Warsito, S.Ag., M.Ag., CT
Sekolah semestinya tidak hanya menjadi tempat peserta didik belajar memahami alam, tetapi juga ruang untuk membangun hubungan yang sehat dengan alam. Di tengah persoalan lingkungan yang semakin kompleks, pendidikan ekologis tidak cukup berhenti pada pengetahuan tentang sampah, penghijauan, atau kebersihan. Ia harus tumbuh menjadi kebiasaan, budaya, sekaligus karakter.
Dalam konteks itulah Gerakan BERSEKA—Bersih, Sehat, Kayungyun—di SMAN 2 Majalengka menemukan relevansinya. BERSEKA bukan sekadar gerakan membersihkan lingkungan sekolah. Ia merupakan ikhtiar membangun ekosistem pendidikan yang menempatkan lingkungan sebagai bagian penting dari proses pembentukan karakter peserta didik.
Kata kayungyun, yang berakar pada kearifan budaya Sunda, mengandung makna rasa senang, betah, nyaman, dan memiliki keterikatan emosional terhadap lingkungan. Sekolah yang bersih dan sehat akan lebih mudah menghadirkan suasana kayungyun. Sebaliknya, rasa memiliki terhadap sekolah akan mendorong warga sekolah untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungannya.
Di titik inilah ekologi bertemu dengan pendidikan karakter.
Dari Bersih Menjadi Budaya
Sering kali gerakan kebersihan sekolah berlangsung secara sporadis. Ketika ada penilaian, peringatan hari lingkungan, atau instruksi pimpinan, warga sekolah bergerak. Setelah itu, kebiasaan lama kembali.
BERSEKA perlu ditempatkan dalam kerangka yang berbeda: kebersihan bukan kegiatan sesaat, melainkan budaya hidup.
Peserta didik tidak hanya diminta membuang sampah pada tempatnya. Mereka diajak memahami dari mana sampah berasal, bagaimana sampah dipilah, apa dampaknya terhadap lingkungan, dan bagaimana sampah dapat dikelola menjadi sesuatu yang bernilai.
Dengan demikian, halaman sekolah, ruang kelas, taman, kantin, saluran air, hingga ruang terbuka hijau dapat menjadi laboratorium pembelajaran ekologis.
Matematika dapat mengolah data volume sampah. Biologi dapat mempelajari ekosistem sekolah. Kimia dapat mengkaji pencemaran dan pengolahan limbah. Ekonomi dapat membahas nilai ekonomi sampah. Bahasa Indonesia dapat mengembangkan kampanye literasi lingkungan. Seni dapat mengubah barang bekas menjadi karya kreatif.
Ekologi akhirnya tidak berdiri sebagai pengetahuan yang terpisah, tetapi hadir dalam berbagai pengalaman belajar.
Pancawaluya sebagai Jiwa Gerakan
Gerakan BERSEKA akan semakin bermakna ketika dihubungkan dengan Pendidikan Karakter Pancawaluya, yakni karakter cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.
Pertama, Cageur. Lingkungan yang bersih dan sehat merupakan prasyarat tumbuhnya peserta didik yang sehat secara fisik. Kebersihan kelas, sanitasi, pengelolaan sampah, ruang hijau, serta kebiasaan hidup bersih bukan sekadar urusan fasilitas sekolah, tetapi bagian dari pendidikan kesehatan.
Kedua, Bageur. Kepedulian terhadap lingkungan merupakan bentuk kebaikan yang konkret. Peserta didik belajar bahwa menjaga kebersihan bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan demi kenyamanan orang lain.
Ketiga, Bener. BERSEKA mendidik kejujuran dan tanggung jawab ekologis. Membuang sampah pada tempatnya ketika tidak ada yang melihat merupakan latihan sederhana untuk melakukan sesuatu yang benar tanpa harus diawasi.
Keempat, Pinter. Persoalan lingkungan membutuhkan pengetahuan dan kemampuan berpikir. Peserta didik perlu memahami bahwa sampah, air, energi, keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim merupakan persoalan yang saling berkaitan.
Kelima, Singer. Inilah karakter yang membuat kepedulian ekologis bergerak menjadi tindakan. Peserta didik dituntut kreatif, adaptif, dan mampu mencari solusi terhadap persoalan lingkungan di sekitarnya.
Dengan demikian, BERSEKA tidak hanya menghasilkan sekolah yang bersih. Lebih jauh, ia diharapkan melahirkan manusia yang cageur, bageur, bener, pinter, dan singer dalam berinteraksi dengan lingkungan.
Sekolah sebagai Ekosistem Kehidupan
Gerakan ekologis di sekolah tidak boleh dibebankan hanya kepada peserta didik. Kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, orangtua, kantin, penjaga sekolah, hingga komunitas sekitar perlu menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Keteladanan menjadi kata kunci. Sulit mengajarkan kepedulian lingkungan jika orang dewasa di sekolah tidak memberikan contoh.
Karena itu, guru yang membawa botol minum sendiri, memilah sampah, hemat energi, merawat tanaman, atau menggunakan kembali barang yang masih layak pakai sesungguhnya sedang memberikan pembelajaran yang jauh lebih kuat daripada sekadar instruksi di dalam kelas.
Pendidikan karakter pada akhirnya bukan terutama tentang apa yang dikatakan guru, melainkan apa yang dilihat, dialami, dan dilakukan peserta didik setiap hari.
BERSEKA dapat menjadi ruang perjumpaan antara ketiganya.
Di SMAN 2 Majalengka, gerakan ini dapat dikembangkan menjadi sebuah budaya sekolah ekologis. Setiap sudut sekolah memiliki pesan pendidikan. Setiap aktivitas memiliki nilai karakter. Setiap persoalan lingkungan menjadi peluang belajar.
Taman bukan sekadar taman, tetapi laboratorium biodiversitas. Tempat sampah bukan sekadar fasilitas, tetapi media pendidikan. Kantin bukan sekadar tempat makan, tetapi ruang belajar tentang pangan sehat dan pengurangan sampah plastik. Halaman sekolah bukan sekadar ruang kosong, tetapi tempat membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Dari Sekolah Bersih Menuju Generasi Ekologis
Tantangan terbesar pendidikan lingkungan bukan membuat peserta didik mengetahui bahwa lingkungan harus dijaga. Tantangannya adalah membuat pengetahuan itu berubah menjadi perilaku yang konsisten.
Karena itu, keberhasilan BERSEKA tidak semestinya hanya diukur dari seberapa bersih sekolah terlihat. Ukuran yang lebih penting adalah apakah terjadi perubahan perilaku: apakah sampah berkurang, apakah pemilahan menjadi kebiasaan, apakah warga sekolah semakin hemat air dan energi, apakah ruang hijau bertambah, dan apakah peserta didik membawa kebiasaan ekologis tersebut ke rumah serta masyarakat.
Di sinilah pendidikan memiliki daya transformatif.
Sekolah bukan hanya tempat mempersiapkan peserta didik menghadapi masa depan. Sekolah juga memiliki tanggung jawab memastikan bahwa masa depan itu tetap layak dihuni.
BERSEKA dapat menjadi langkah kecil untuk tujuan besar tersebut. Bersih membangun lingkungan yang tertata. Sehat membangun kehidupan yang berkualitas. Kayungyun membangun rasa memiliki terhadap lingkungan.
Ketika ketiganya bertemu dengan karakter cageur, bageur, bener, pinter, dan singer, gerakan ekologis tidak lagi sekadar program sekolah.
Ia berubah menjadi pendidikan karakter yang hidup.
Sebab, sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang menghasilkan peserta didik berprestasi. Sekolah yang baik juga melahirkan generasi yang memahami bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal, melainkan amanah yang harus dirawat bersama.

Komentar Terbaru